Bertempat di Pendopo Kabupaten Purwakarta, Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta Drs. H. Iyus Permana, MM mengikuti Tadarus Al-Quran bersama pada hari ke sebelas yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad Munajat.
Tadarus Al-Qur'an juga diikuti oleh Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Purwakarta ataupun yang mewakili. Adapun ASN pada setiap Perangkat Daerah Kabupaten Purwakarta melaksanakan Tadarus Al-Qur'an di Ruang kerjanya masing-masing.
Pada kesempatan ini, terdapat Kultum yang disampaikan oleh Ustadz H. Deden Anwar Fauzi, M.Pd., beliau menceritakan kisah Imam Al Ghazali yang bertanya kepada muridnya, "Wahai Muridku, apa yang paling dekat dengan kita di dunia ini?". Kata murid-muridnya menjawab "wahai guruku, yang paling dekat dengan kita itu adalah orang-orang yang kita sayangi seperti anak-anak kita, orang tua kita, adik, kakak dan keluarga yang sangat menyayangi kita".
Kata Imam Al Ghazali, "memang betul wahai murid-muridku, keluarga yang kita sayangi yaitu orang-orang yang dekat dengan kita. Tetapi pada hakikatnya yang paling dekat dengan kita itu adalah kematian".
Setiap makhluk yang bernyawa akan mencicipi atau merasakan kematian, yang namanya mencicipi atau merasakan itu tidak lama/sebentar. Yang lama adalah setelah kematian. Maka pertanyaan yang besar adalah "apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi hari kematian?"
Berdasarkan kategorinya, orang itu ada yang meninggal, orang yang meninggalkan, orang yang ketinggalan, dan orang yang ditinggalkan. Orang yang meninggal, meninggal begitu saja tidak ada kesan dan pesan yang bisa dikenang oleh sahabatnya dan keluarganya. Sedangkan orang yang hebat adalah orang yang meninggalkan kesan dan pesan seperti para ulama yang memiliki banyak santri-santri atau murid-muridnya, terdapat pondoknya, karangan kitabnya, mesjidnya, dan masih banyak peninggalan kebaikan lainnya. Orang yang meninggalkan itu ketiadaannya di cari, kehadirannya di nanti, kepergiannya dirindui, wafatnya ditangisi, serta kebaikannya di teladani. Oleh karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang ketinggalan atau ditinggalkan.
Imam Al Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, "Wahai muridku, apa yang paling jauh dengan kita?" Lalu murid-muridnya menjawab "Wahai guruku, yang jauh itu Negeri China di sebrang sana". Pada hakikatnya, yang paling jauh dengan kita adalah waktu yang telah kita lalui bersama.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala sering bersumpah dalam Al-Qur'an mengenai waktu, seperti wal-'ashr (demi waktu ashar), wad dhuha (demi waktu dhuha), was subhi idza tanaffas (demi waktu subuh), wal-fajri (demi waktu fajar), wan nahar (demi waktu siang), wal-lail (demi waktu malam), dan masih banyak lagi.
Banyak orang yang rugi karena waktu dan banyak orang yang celaka karena waktu. Oleh karena itu, kita jangan sampai menyia-nyiakan waktu.
Imam Al Ghazali bertanya kembali kepada murid-muridnya, "Apa yang paling berat di dunia ini?", lalu murid-murinya menjawab "Besi, baja, batu". Imam Al Ghazali menjawab "Memang betul besi, baja, batu adalah yang paling berat. Akan tetapi pada hakikatnya yang paling berat adalah memikul amanah". Maka pada saat Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib (Khulafaur Rasyidin) ketika dipercaya oleh rakyatnya untuk menggantikan Rasullullaah SAW., mereka mengucapkan "Innalillaahi wainna ilaihi rajiun" karena begitu berat amanah yang akan di pertanggungjawabkannya dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Imam Al Gahazali bertanya lagi kepada murid-muridnya, "Apa yang paling besar di dunia ini?", lalu murid-muridnya menjawab "Planet planet". Memang betul bumi dan planet-planet lain begitu besar, akan tetapi pada hakikatnya yang paling besar adalah dorongan hawa nafsu. Dengan berpuasa Ramadhan ini, kita dilatih untuk dapat menahan hawa nafsu yang ada dalam diri kita.
Dan yang terakhir, Imam Al Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, "wahai murid-muridku, apa yang paling tajam di dunia ini?", lalu murid-muridnya menjawab "silet, jarum, pedang, tombak, pisau, dan lain sebagainya". Namun pada hakikatnya yang paling tajam itu adalah hati dan lisan (lidah). Seseorang baik dan buruknya, celaka dan tidaknya, bahagia dan tidaknya itu karena hati dan lisan (lidah).
Rasulullah SAW memberitahukan kepada kita, bahwa seseorang yang banyak masuk ke neraka yaitu karena lisan dan kemaluannya (istinja tidak bersih). Maka dari itu, mari kita perbaiki hati, lisan dan cara beristinja. Semoga kita semua mendapatkan syafa'atnya kelak di akhirat.
Komentar
Posting Komentar